2.03.2012

Kisah Serumpun Padi

KapanLagi.com - Padi adalah tanaman yang sangat penting terutama bagi kita. Dari tanaman itulah nasi yang kita santap setiap hari bisa dinikmati. Perut yang lapar dikenyangkan. Tubuh yang lemah dikuatkan. Namun, suatu kali, kisah memilukan tentang mereka pernah terjadi...

Adalah seorang petani yang muda dan berparas tampan, namun ia juga sosok yang angkuh dan keras kepala. Ia selalu ingin menang sendiri dan tak pernah mau rugi. Suatu saat, ia berpikir bahwa seharusnya ia menanam padi setangkai demi setangkai saja. Agar kelak saat padi sudah menguning, ia bisa menanaknya untuk dirinya sendiri.
Dan benarlah, yang ia tanam hanya setangkai padi saja. Ia benar-benar tak mau berbagi. Bahkan ia sudah menyiapkan sebuah piring untuk dirinya saja. "Wahai petani-petani tetangga. Mengapa kalian begitu bodoh memberi makan seisi dunia. Bukankah seharusnya setiap orang itu berusaha untuk dirinya sendiri saja masing-masing. Untuk apa berpikir demi orang lain?" serunya angkuh.
Petani lainnya tak mengindahkan seruannya. Mereka tetap mencangkul dan merawat rumpun-rumpun padi di sawah mereka. Membuat semuanya menguning rata, dan siap memanen agar seluruh isi desa tercukupi kebutuhannya.
Tiba saat panen, sang petani muda memetik setangkai padi itu. Memetik bulir-bulirnya, kemudian menanaknya menjadi nasi. Apa yang kemudian terjadi? Bahkan tak sesendok nasipun tercipta darinya. Tak sebutirpun membuat perutnya terisi kenyang, karena butiran beras tadi malah gosong dan menguap. Terang saja, hanya beberapa butir yang dimasaknya.
Ia pun menyesali apa yang dilakukannya. Berjanji untuk membuat seluruh sawahnya terisi rumpun padi dan membuatnya tumbuh serta menguning bersama-sama, agar kelak bisa dipanen tak hanya demi dirinya, namun bagi seluruh penduduk desa.

Renungan: Saat menjadi seorang atasan, cenderung kita berubah menjadi angkuh dan sombong. Individualisme pun melambung tinggi, membuat kita lupa akan rekan-rekan yang posisinya ada di bawah kita. Alhasil, semua hal yang kita kerjakan lebih terfokus untuk memuaskan diri sendiri. Padahal jika hanya memenuhi kebutuhan diri, maka hasil tersebut tidak akan maksimal, bahkan bisa jadi tak memberikan hasil sama sekali. Maka jadilah seperti padi, makin ranum makin tunduklah ia. Memandang semua yang ada di bawahnya, untuk selalu bersyukur sekaligus menjadi bermanfaat bagi sesama. (wo/bee)

0 komentar:

Posting Komentar